Dosen Faperta Unisma Malang, Sri Hindarti melakukan penelitian selama kurang lebih empat bulan untuk menemukan strategi yang cocok untuk pengembangan bawang merah di Desa Purworejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

Diketahui wilaya tersebut merupakan salah satu sentra bawang merah di Kota Malang. Usaha tani bawang merah mempu menjadi sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi petani serta berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi daerah.

Bawang merah merupakan salah satu bumbu dapur yang banyak dibutuhkan. Sayangnya permintaan akan bawang merah sering kali tidak diimbangi dengan ketersediaannya di tingkat petani. Karena itu sering kali terjadi perubahan harga yang cukup mencolok pada komoditas ini. Hal ini tentunya harus didukung dengan pengembangan bawang merah di ingkat petani supaya kebutuhan akan bawang merah bisa terus diimbangi dengan ketersediannya.

“Masalah umum yang sering terjadi dalam agribisnis bawang merah adalah fluktuasi harga antar musim, untuk mengatasi kondisi tersebut pemerintah sering kali melakukan kebijakan impor bawang merah setiap tahun.  Hal tersebut bertolak belakang dengan  potensi lahan pertanian yang cukup memungkinkan untuk terpenuhinya kebutuhan bawang merah dalam negeri.  Oleh karena itu diperlukan strategi dalam pengembangan bawang merah sesuai potensi daerah,” ungkap Sri Hindarti selaku dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang serta ketua peneliti Strategi Pengembangan Bawang Merah di Desa Purworejo, Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang.

Ia menjelaskan bawang merah memiliki kondisi fisik yang mudah rusak serta sifat produksi yang sangat bergantung pada musim, menyebabkan pasokan bawang merah menjadi tidak stabil sehingga harga jual juga mengalami fluktuasi antar musim dan antar daerah.

Fluktuasi harga terjadi dimana pada saat musim panen harga bawang turun dan sebaliknya pada saat tidak panen harga melonjak sangat tajam. Demikian pula mahalnya biaya transportasi menyebabkan perbedaan yang menyolok harga bawang merah antar daerah produsesn dan daerah konsumen. 

Lebih lanjut Sri Hindarti menjelaskan pada tahap awal telah dilakukan identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal dan selanjutnya setelah diketahui factor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman agribisnis bawang merah, disusunlah suatu strategi untuk mengembangkan agribisnis bawang merah.

“Dari penelitian itu kami menemukan bahwa strategi yang bisa kami rekomendasikan dalam pengembangan bawang merah di sana adalah dengan mengembangkan saprodi secara lokal secara optimal karena hal itu merupakan unggulan daerah,” ungkap Sri Hindarti.

“Saprodi atau sarana prodi bawang merah lokal ini merupakan sebuah kelebihan bagi masyarakat karena saprodi lokal dinilai lebih baik dari pada impor. Kedatangan saprodi impor biasanya dilakukan jika saprodi dalam negeri mengalami kekurangan benih atau bibit. Namun pada dasarnya petani lebih menyukai saprodi lokal dengan perhitungan ketersediaan benih, umur panen, serta kesesuaian dengan kebutuhan dan agroekosistem daerah,” imbuhnya.

Sri Hindarti berharap hasil penelitiannya bisa memberikan perubahan yang baik terhadap petani dalam mengembangkan potensi yang ada sehingga bisa tercipta stabilitas harga di pasaran, paling tidak di pasar-pasar area Malang.

“Melalui pengembangan agroindustri bawang merah diharapkan pasokan bawang akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun dan fluktuasi harga tidak terlalu tajam,” kata Sri Hindarti.

Sumber : https://www.timesindonesia.co.id/read/news/290635/dosen-faperta-unisma-malang-temukan-strategi-pengembangan-bawang-merah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *