Oleh : Dr. Ir. Nurhidayati, MP (Dekan Fakultas Pertanian UNISMA)

Sungguh suatu yang tidak disangka  ketika saya menerima surat dari The Royal Thai Embassy bahwa saya sebagai nominasi pemenang  The Fellowsihp Awards dari TICA dan KOICA untuk mengikuti International Training of Sustainable Agriculture based on Sufficiency Economy Philosophy selama tiga minggu. 

Terdapat tujuh negara ASEAN yang mengikuti program ini. Kami berdiskusi tentang penerapan Sustainable Agriculture di negara kita masing-masing. Kami tinggal di  Rajamangala Chom Kluen Hotel, Hua-Hin, Petchaburi. selama training. Pelaksanaan Training dilakukan di kelas dan kunjungan lapangan ke petani yang menerapkan Sustainable Agriculture.


Foto Bersama Dari Perwakilan Tujuh Negara ASEAN

Pengalaman yang sangat menarik dan menyenangkan selama mengikuti training ini ketika berkunjung ke lahan-lahan pertanian dan hutan mangrove milik pemerintah (The projects of the king) dan lahan-lahan milik petani-petani di Provinsi Phetchabury, Thailand.  Banyak pelajaran yang saya peroleh ketika berkunjung ke lahan pertanian dan berdiskusi dengan petani-petani di Provinsi Phetchabury, Thailand.  Ada pertanyaan yang mengelitik hati saya mengapa Negara Thailand disebut sebagai Kitchen of the word, padahal lahan pertaniannya tidaklah terlalu subur dibandingkan dengan Indonesia yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi, tanahnya subur dan kualitasnya tinggi tetapi produktivitas tanamannya  masih lebih rendah terutama pada komoditi tanaman hortikultura. Lahan-lahan yang terdegradasi karena erosi dan permukaannya terlihat penuh bebatuan berwarna putih menyerupai batu kapur, sejak tahun 1998  telah dilakukan restorasi lahan, sekarang telah berubah menjadi kawasan hijau yang subur, walaupun di beberapa tempat masih dijumpai bebatuan putih. Apa yang dilakukan oleh masyarakat Thailand? Mereka sangat patuh pada titah sang Raja untuk tetap bertahan hidup di tengah situasi yang sangat tidak menyenangkan saat krisis ekonomi dan krisis pangan yang melanda negara Thailand tahun 1998. 

Raja Thailand memerintahkan rakyatnya untuk melakukan restorasi dan reboisasi dengan menanam rumput.  Masyarakat Thailand menyebutnya rumput ajaib yang mampu menghancurkan bebatuan.  Ternyata nama ilmiah rumput tersebut adalah Vetiveria zizanioides atau dikenal dengan rumput vetiver.  Rumput tersebut memiliki perakaran luas dan dalam serta memiliki biomassa yang besar sehingga bisa menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar ketika musim penghujan dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang membantu menghancurkan bebatuan tersebut.  Setelah saya amati rumput ini banyak ditemukan di Indonesia dan benar apa yang saya duga setelah saya berdiskusi dengan pengelola lahan ini ternyata rumput ini awal mulanya mereka impor dari Indonesia, kemudian dibudidayakan secara besar-besaran dan ditanam di kawasan yang terdegradasi. Setelah tiga tahun penanaman rumput Vetiver ini bebatuan hancur dan dapat ditanami kembali. Kita sebagai pemerhati bidang pertanian mungkin tidak pernah terfikirkan bahwa rumput tersebut mampu memulihkan tanah-tanah terdegradasi.


Rumput vetiver (Vetiveria zizanioides) yang mampu menghancurkan bebatuan

Pengamalan yang sangat berkesan lagi  ketika kami berkunjung ke petani sukses yang menerapkan sistem pertanian organik di provinsi ini dengan menanam tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan antara lain sayuran daun, buah pisang, anggur, pepaya, belimbing, jambu bangkok dan kelapa.  Saya merasakan buah-buahan yang ditanam di lahan tersebut yang sangat berbeda dari buah yang sama di Indonesia,  rasanya manis sekali dan renyah serta buahnya besar-besar. Apa kunci keberhasilan mereka? Ternyata mereka menerapkan sistem pertanian organik yang memanfaatkan seresah dedaunan dan kotoran ternak yang mereka pelihara untuk dijadikan pupuk kompos yang diaplikasikan ke lahan perkebunan buah tersebut secara rutin sehingga tanah tetap subur, tanpa sedikitpun menggunakan pupuk kimia maupun pestisida kimia.  Aplikasi pupuk kompos dapat meningkatkan  aktivitas mikroorganisme tanah untuk mempertahankan kesuburan tanah.


Kunjungan ke lahan terdegradasi yang telah berubah menjadi lahan hijau

Bagi saya ini adalah pengalaman yang sangat berkesan (very impressive experince) bahwa bila kita sebagai pemerhati dan pengusaha pertanian memiliki komitmen tinggi untuk menerapkan sistem pertanian organik yang memanfaatkan potensi lokal, maka sistem pertanian kita akan sustainable dan dapat menghasilkan produk pangan yang sehat dan berkualitas tinggi sehingga bisa kita ekspor ke negara lain sebagaimana dilakukan oleh petani-petani di negara Thailand. Mereka benar-benar telah lulus dari masa-masa sulit krisis ekonomi dan krisis pangan dan energi  dan menjadi The Kitchen of the World karena kesabaran dan kepatuhannya kepada Raja untuk tetap kreatif dan inovatif memanfaatkan sumberdaya lokal dan  menerapkan sistem pertanian yang berkelanjutan dengan Low Technology External Input.  Dengan ketekunan dan kecintaan terhadap profesi kita di bidang pertanian, Insyaallah masa-masa sulit yang akan kita hadapi pasca Covid-19 di bidang ketahanan pangan akan kita lalui dengan meningkatkan kreativitas dan aksi nyata untuk tanam apa yang kita makan dan makan apa yang kita tanam di lingkungan kita sehari-hari. 

Sumber : http://kui.unisma.ac.id/2020/05/23/berbagi-pengalaman-berada-di-negara-kitchen-of-the-world-oleh-dr-ir-nurhidayati-mp-dekan-fakultas-pertanian-uisma-malang/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *